Sumba Timur Dilanda Kekeringan
Kamis, 15 April 2010 13:13 WIB
KUPANG--MI: Kekeringan hebat melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur dengan kerusakan lahan pertanian dan gagal panen mencapai 18.559,221 hektare. Kerusakan lahan pertanian dan gagal panen ini merupakan lahan milik 31.002 kepala keluarga (kk) yang tersebar di lebih dari 50 desa.
Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora, Kamis (15/4) mengatakan kekeringan yang melanda wilayah itu telah mengakibatkan sebagian masyarakat terancam rawan pangan karena gagal panen dan gagal tanam. Menurut dia, luas areal pertanian yang mengalami kerusakan sementara ini tercatat luas lahan padi yang gagal panen akibat kekeringan mencapai 7.l957,1 ha, jagung 8.517,7 ha, kacang tanah 1.267,65 ha, kacang hijau 899,58 ha, ubi kayu 405,18 ha dan ubi jalar 12 ha.
"Ini adalah fakta di lapangan dan sudah dipantau langsung oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya sejak Senin malam hingga Selasa siang dan sama sekali tidak ada kaitan dengan pelaksanaan Pemilu kepala daerah," katanya.
Kepala Badan Bimmas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur, Ir. Ida Bagus Putu Punia secara terpisah menjelaskan, hampir semua wilayah di Sumba Timur mengalami kekeringan dan petani mulai terancam rawan pangan. "Daerah terparah di bagian timur seperti Pahunga Lodu, Rindi, Umalulu, Pandawai, Kanatang, Katala Hamulingu, Lewa, Lewa Tidahu, Ngadu Ngala, Karera dan Mahu," katanya.
Ia mengatakan pemerintah sudah mengambil langkah-langkah penanggulangan dengan merealisasi cadangan beras pemerintah (CBP) tahun ini sebanyak 100 ton. Beras tersebut akan dibagikan kepada warga di 56 desa yang sudah memasukkan usulan. Setiap keluarga akan memperoleh 14 kg beras dan diperkirakan hanya bertahan untuk kebutuhan selama seminggu.
"Sesuai ketentuan dari Kementerian Sosial, kebutuhan pangan satu keluarga rata-rata dua kilogram beras per hari. Kita ambil jumlah standar satu rumah lima anggota keluarga. Kalau tujuh hari maka 14 kg," kata Bagus.
Ia juga mengatakan, kalau perhitungan normal kebutuhan pangan keluarga 20 kg/10 hari maka dalam tiga bulan harus ada stok pangan mencapai 2.100 ton. "Jadi prediksi kita, kebutuhan beras untuk penanggulangan bencana rawan pangan di Sumba Timur mencapai 2.000 ton," katanya. (Ant/OL-06)
Jumat, 16 April 2010
Kelaparan di Sumba Timur Jadi Isu Kampanye Calon Bupati Minggu, 11 April 2010 10:31 WIB
Kelaparan di Sumba Timur Jadi Isu Kampanye Calon Bupati
Minggu, 11 April 2010 10:31 WIB
WAINGAPU--MI: Kelaparan yang melanda puluhan ribu masyarakat Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menjadi isu sentral kampanye pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (cawabup) daerah itu periode 2010-2015.
Pada sosialisasi cabup dan cawabup asal Partai Golkar Gidion Mbilijora-Matius Kitu (YMB-MK) di Waingapu, ibu kota Sumba Timur, Sabtu (10/4) petang, isu tersebut langsung mengemuka. Ketua Partai Golkar SumbaTimur Palulu Pabundu Ndima menyeroti kinerja YMB-MK yang dinilai merespon cepat bencana kelaparan tersebut.
Sayangnya, permintaan bantuan pangan yang disampaikan sejak 1 Maret 2010 kepada pemerintah pusat dan provinsi, masih dipandang sebelah mata. Bahkan, Gubernur NTT Frans Lebu Raya masih mengirim tim pemantau krisis pangan untuk mengecek kebenaran bencana kelaparan itu, ketimbang mengirim bantuan pangan darurat. Di hadapan sekitar 1.000 simpatisan pasangan tersebut, ia beralasan bantuan pemerintah pusat sangat dibutukan karena dana pemerintah kabupaten sangat terbatas untuk membeli beras.
Pasalnya, warga yang didera bencana kelaparan harus segera diberikan bantuan karena tidak memiliki daya beli untuk membeli pangan. "Memang anggaran kita sangat terbatas," cetusnya.
Permintaan bantuan itu tidak hanya beras, tetapi juga pompa untuk mengalirkan air dari sungai yang masih memiliki cukup air ke ladang. Tujuannya, petani bisa menanam lagi karena tanaman yang seharusnya memasuki masa panen April ini, gagal karena kekeringan.
Penampilan Palulu memang mendapat aplaus ketika ia menyingsung soal langkah-langkah yang telah dilakukan Gidion yang adalah calon incumbent. Salah satu langkah penting adalah memanfaatkan dana sebesar Rp1,3 miliar yang berasal dari pos dana tak tersangka untuk membeli beras. Beras yang akan dibeli itu nantinya dibagikan kepada masyarakat korban bencana kelaparan masing-masing 20 kilogram untuk kebutuhan selama 10 hari. Akan tetapi langkah itu baru ditempuh jika pemerintah pusat dan provinsi belum juga tergerak menggelontorkan bantuan.
Ia juga menyingung soal rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Sumba Timur berkekuatan 3,2 megawatt (Mw) pertengahan tahun ini. "Saya dan pak Gidion sudah menandatangani MoU-Memorandum of Understanding bersama perusahaan yang akan membangun PLTS," katanya.
Penegasan itu kata Dia, disampaikan agar masyarakat paham untuk mencegah isu pembangunan PLTS menjadi bahan kampanye pasangan calon bupati lainnya. "Ada yang bilang kalau terpilih jadi bupati, listrik di Sumba Timur tidak mati lagi," cetusnya. Dia mengakui, isu pemadaman listrik bergilir yang dilakukan PLN memang menjadi bahan jualan kandidat calon bupati.
Misalnya belum lama ini, kata Dia, beredar kabar dari mulut ke mulut yang menyebutkan pemerintah memindahkan sebuah mesin pembangkit dari Kecamatan Pandawai ke Waingapu. Itulah yang menurut kabar tersebut, menjadi penyebab utama matinya listrik. "Itu tidak benar," sergahnya. (PO/OL-02)
Minggu, 11 April 2010 10:31 WIB
WAINGAPU--MI: Kelaparan yang melanda puluhan ribu masyarakat Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menjadi isu sentral kampanye pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (cawabup) daerah itu periode 2010-2015.
Pada sosialisasi cabup dan cawabup asal Partai Golkar Gidion Mbilijora-Matius Kitu (YMB-MK) di Waingapu, ibu kota Sumba Timur, Sabtu (10/4) petang, isu tersebut langsung mengemuka. Ketua Partai Golkar SumbaTimur Palulu Pabundu Ndima menyeroti kinerja YMB-MK yang dinilai merespon cepat bencana kelaparan tersebut.
Sayangnya, permintaan bantuan pangan yang disampaikan sejak 1 Maret 2010 kepada pemerintah pusat dan provinsi, masih dipandang sebelah mata. Bahkan, Gubernur NTT Frans Lebu Raya masih mengirim tim pemantau krisis pangan untuk mengecek kebenaran bencana kelaparan itu, ketimbang mengirim bantuan pangan darurat. Di hadapan sekitar 1.000 simpatisan pasangan tersebut, ia beralasan bantuan pemerintah pusat sangat dibutukan karena dana pemerintah kabupaten sangat terbatas untuk membeli beras.
Pasalnya, warga yang didera bencana kelaparan harus segera diberikan bantuan karena tidak memiliki daya beli untuk membeli pangan. "Memang anggaran kita sangat terbatas," cetusnya.
Permintaan bantuan itu tidak hanya beras, tetapi juga pompa untuk mengalirkan air dari sungai yang masih memiliki cukup air ke ladang. Tujuannya, petani bisa menanam lagi karena tanaman yang seharusnya memasuki masa panen April ini, gagal karena kekeringan.
Penampilan Palulu memang mendapat aplaus ketika ia menyingsung soal langkah-langkah yang telah dilakukan Gidion yang adalah calon incumbent. Salah satu langkah penting adalah memanfaatkan dana sebesar Rp1,3 miliar yang berasal dari pos dana tak tersangka untuk membeli beras. Beras yang akan dibeli itu nantinya dibagikan kepada masyarakat korban bencana kelaparan masing-masing 20 kilogram untuk kebutuhan selama 10 hari. Akan tetapi langkah itu baru ditempuh jika pemerintah pusat dan provinsi belum juga tergerak menggelontorkan bantuan.
Ia juga menyingung soal rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Sumba Timur berkekuatan 3,2 megawatt (Mw) pertengahan tahun ini. "Saya dan pak Gidion sudah menandatangani MoU-Memorandum of Understanding bersama perusahaan yang akan membangun PLTS," katanya.
Penegasan itu kata Dia, disampaikan agar masyarakat paham untuk mencegah isu pembangunan PLTS menjadi bahan kampanye pasangan calon bupati lainnya. "Ada yang bilang kalau terpilih jadi bupati, listrik di Sumba Timur tidak mati lagi," cetusnya. Dia mengakui, isu pemadaman listrik bergilir yang dilakukan PLN memang menjadi bahan jualan kandidat calon bupati.
Misalnya belum lama ini, kata Dia, beredar kabar dari mulut ke mulut yang menyebutkan pemerintah memindahkan sebuah mesin pembangkit dari Kecamatan Pandawai ke Waingapu. Itulah yang menurut kabar tersebut, menjadi penyebab utama matinya listrik. "Itu tidak benar," sergahnya. (PO/OL-02)
Kabupaten Sumba Timur
Kabupaten Sumba Timur
Peta lokasi Kabupaten Sumba Timur
Koordinat : -
Motto
Matawai Amahu pada Njara Hamu
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim
'
Provinsi
Nusa Tenggara Timur
Ibu kota
Waingapu
Luas 7.000,5 km²
Penduduk
• Jumlah 190.214 jiwa (2002)
• Kepadatan - jiwa/km²
Pembagian administratif
• Kecamatan
-
• Desa/kelurahan
-
Dasar hukum
Tanggal 1958
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Drs. Gidion Mbiliyora, M.S
Kode area telepon
0387
APBD
{{{apbd}}}
DAU
-
Suku bangsa
{{{suku bangsa}}}
Bahasa
{{{bahasa}}}
Agama
{{{agama}}}
Flora resmi
{{{flora}}}
Fauna resmi
{{{fauna}}}
Zona waktu
{{{zona waktu}}}
Bandar udara
{{{bandar udara}}}
________________________________________
Situs web resmi: http://www.sumbatimurkab.go.id/
Kantor DPRD Kabupaten Sumba Timur di Kota Waingapu
Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada masa lalu, kabupaten ini berada di bawah Keresidenan Timor.
Geografi
Wilayah
Kabupaten ini menempati bagian timur Pulau Sumba dengan batas sebagai berikut:
Utara
Selat Sumba
Selatan
Samudra Hindia
Barat
Kabupaten Sumba Barat
Timur
Laut Sabu
Selain itu, kabupaten Sumba Timur juga meliputi empat pulau kecil di selatan, yakni Pulau Salura, Pulau Mengkudu, Pulau Kotak, dan Pulau Nusa.
Kondisi topografi Sumba Timur secara umum datar (di daerah pesisir), landai sampai bergelombang (wilayah dataran rendah <100 meter) dan berbukit (pegunungan). Daerah dengan ketinggian di atas 1000 m hanya sedikit di wilayah perbukitan dan gunung. Lahan pertanian terutama di dataran pantai utara, yang memiliki cukup air di permukaan maupun sungai-sungai besar. Setidaknya terdapat 88 Sungai dan mata air yang tidak kering di musim kemarau.
Rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur curam yang menguasai wilayah bagian tengah dengan empat puncak: Mawunu, Kombapari, Watupatawang, dan Wanggameti. Dataran rendah terdapat di sepanjang pesisir dengan bagian yang cukup luas di Tanjung Undu (pesisir paling barat). Kabupaten ini beriklim tropis dengan musim hujan yang relatif pendek dan musim kemarau yang panjang (delapan bulan). Suhu rata-rata adalah 22,5 derajat sampai 31,7 derajat Celsius. Musim hujan biasanya terjadi di bulan Desember sampai Maret untuk daerah pesisir dan November sampai April di daerah pedalaman. Jumlah curah hujan dalam setahun 1.860 milimeter, sehingga daerah ini termasuk daerah beriklim kering.
Amplitudo suhu yang tinggi mengakibatkan batu-batuan menjadi lapuk, tanah merekah dan terjadi seleksi alam terhadap tumbuhan dan hewan yang dapat hidup dalam kondisi demikian. Karena itu, jenis tumbuhan yang ada umumnya berupa tanaman keras seperti jati, kelapa, dan aren; sementara hewan peliharaan umumnya adalah sapi, kerbau, dan kuda yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan alam Sumba yang berpadang sabana luas.
Keadaan tanah di Sumba Timur mengandung pasir, kapur, dan batu karang karena ratusan ribu tahun yang lalu daerah ini berada di bawah permukaan laut. Setelah zaman es berlalu, daratan ini muncul di atas permukaan laut, sehingga sering dijumpai berbagai jenis hewan laut seperti kerang, ikan dan tanaman laut yang telah menjadi fosil di bukit-bukit karang. Rumput-rumput pun tumbuh di atas batu-batu karang.
Demografi
Jumlah Penduduk Kabupaten Sumba Timur (2002) adalah 190.214 jiwa, atau dengan kepadatan rata-rata 27 jiwa/km². Kepadatan tertinggi di Kecamatan Waingapu, yaitu 1.049 jiwa/km², sedang kepadatan terendah ada di Kecamatan Haharu, yaitu 13 jiwa/km². Disamping orang Sumba Timur asli, juga terdapat orang Sabu, keturunan Tionghoa, Arab, Bugis, Jawa dan penduduk yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur lainnya. Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Sumba Kambera. Sebagian besar penduduk di kabupaten ini beragama Protestan. Selebihnya adalah Islam, Hindu dan Budha. Sekitar 39 persen lagi adalah beragama tradisional Marapu. Meskipun keadaan tanahnya kurang subur, lebih dari separuh penduduk kabupaten Sumba Timur ini adalah petani. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai peternak, pegawai, buruh, nelayan dan lain-lain. Walaupun sektor pertanian menempati tempat pertama dalam pendapatan regional, luas sawah yang bisa digarap baru 11 persen dari luas tanah kabupaten seluruhnya. Penggarapan sawah ini dilakukan dengan cara tradisional yang disebut renca, yaitu pengerahan tenaga manusia dan kerbau dalam jumlah besar diatas tanah sawah yang akan ditanami. Kaki-kaki kerbau yang berjumlah puluhan ini digunakan sebagai pengganti bajak, dan pekerjaan renca ini diawali dan diakhiri dengan upacara keagamaan (ritus). Kehidupan sehari-hari penduduknya pada dasarnya merupakan cerminan kehidupan agama tradisional mereka. Hal ini bisa dilihat saat mereka melaksanakan berbagai upacara adat berkenaan dengan daur hidup seperti upacara kelahiran (habola), perkawinan (lalei atau mangoma) dan kematian (pa taningu).
Perekonomian
Perekonomian penduduk Sumba Timur ini sebagian besar adalah pertanian (termasuk peternakan), industri rumah tangga (terutama kerajinan tekstil/tenun), serta pariwisata.
Kerajinan
Industri rumah tangga di Sumba Timur didominasi kerajinan kain tenun ikat yang terdapat di hampir seluruh penjuru kabupaten. Kerajinan kain tenun ikat ini sudah terkenal sejak ratusan tahun. Ada dua kelompok pengrajin, yaitu yang menggantungkan seluruh penghasilannya pada pekerjaannya dan yang melakukannya hanya sebagai kerjaan sambilan. Seniman sambilan ini umumnya adalah mereka yang secara sosial masih memiliki fungsi adat seperti kaum bangsawan (maramba). Walaupun merupakan hasil sambilan, tenun jenis ini bermutu tinggi karena sebenarnya tenunan tersebut bukanlah barang dagangan, hanya sebagai koleksi atau digunakan dalam upacara adat. Ada beberapa daerah yang terkenal dengan kain tenunnya, seperti Desa Kaliuda yang terletak di Kecamatan Pahungalodu, Rindi dan Watuhadang yang terletak di kecamatan Rindiumalulu, Rambangaru yang terletak di kecamatan Pandawai, dan Kelurahan Prailulu. Tenunan dari daerah ini bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan ramuan tradisional dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tidak jarang ada tenunan yang lama penyelesaiannya hingga tahunan, yang menyebabkan harga jualnya pun mencapai jutaan rupiah, terutama yang berasal dari Rindi, Kaliuda, dan Kampung Pau.
Kerajinan tenun ini juga mendukung kegiatan pariwisata di kabupaten ini.
Pertanian tanaman
Pada sektor pertanian tanaman, padi, jagung, dan ubi kayu menjadi andalan. Hasil pertanian lainnya adalah cengkeh, kapuk, kemiri, kelapa, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, sorgum, dan jambu mete. Hasil pertanian tersebut telah dikembangkan sejak tahun 1977.
] Peternakan
Sektor peternakan memiliki sejarah panjang dan cukup berbeda dari daerah lain di Indonesia, oleh sebab keadaan alam wilayah ini yang memiliki musim penghujan pendek dan padang rumput (sabana) luas.
Sumba Timur terkenal sebagai pusat penangkaran dan perdagangan kuda sejak abad ke-19. Kuda sandel, yang merupakan hasil perbaikan (grading up) kuda lokal dengan kuda Arab, telah menjadi maskot daerah dan figurnya dimasukkan dalam lambang daerah.
Pada awal abad ke-20 (1906-1907) pemerintah Hindia Belanda memasukkan empat ras sapi ke Sumba, sapi jawa, sapi madura, sapi bali, dan sapi ongole dari India. Hanya yang terakhir yang diketahui bisa beradaptasi dengan baik dan segera menjadi komoditi peternakan unggulan, menggeser kuda.[1] Tujuh tahun sejak introduksi, pemerintah menetapkan Sumba sebagai pusat penangkaran sapi ongole murni dan sejak itu biakannya dikenal sebagai ras SO (Sumba Ongole), dan ini berlangsung hingga sekarang.
Pariwisata
Pantai Kalala, Tarimbang, Purukambera, dan Walakiri sudah mendunia dan dikenal sebagai tempat berselancar yang indah. Sisa-sisa kebudayaan megalitik berupa kubur batu dan rumah-rumah adat asli yang sering menjadi tempat pelaksanaan upacara adat penguburan jenazah bangsawan menarik minat para wisatawan. Wisata alam dapat dilakukan di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.[2]
Tempat wisata populer lainnya adalah Londa Lima, Watuparunu, dan Purukambera.
Kecamatan
Kabupaten Sumba Timur dibagi menjadi 15 kecamatan (lihat boks di bawah).
Peta lokasi Kabupaten Sumba Timur
Koordinat : -
Motto
Matawai Amahu pada Njara Hamu
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim
'
Provinsi
Nusa Tenggara Timur
Ibu kota
Waingapu
Luas 7.000,5 km²
Penduduk
• Jumlah 190.214 jiwa (2002)
• Kepadatan - jiwa/km²
Pembagian administratif
• Kecamatan
-
• Desa/kelurahan
-
Dasar hukum
Tanggal 1958
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Drs. Gidion Mbiliyora, M.S
Kode area telepon
0387
APBD
{{{apbd}}}
DAU
-
Suku bangsa
{{{suku bangsa}}}
Bahasa
{{{bahasa}}}
Agama
{{{agama}}}
Flora resmi
{{{flora}}}
Fauna resmi
{{{fauna}}}
Zona waktu
{{{zona waktu}}}
Bandar udara
{{{bandar udara}}}
________________________________________
Situs web resmi: http://www.sumbatimurkab.go.id/
Kantor DPRD Kabupaten Sumba Timur di Kota Waingapu
Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada masa lalu, kabupaten ini berada di bawah Keresidenan Timor.
Geografi
Wilayah
Kabupaten ini menempati bagian timur Pulau Sumba dengan batas sebagai berikut:
Utara
Selat Sumba
Selatan
Samudra Hindia
Barat
Kabupaten Sumba Barat
Timur
Laut Sabu
Selain itu, kabupaten Sumba Timur juga meliputi empat pulau kecil di selatan, yakni Pulau Salura, Pulau Mengkudu, Pulau Kotak, dan Pulau Nusa.
Kondisi topografi Sumba Timur secara umum datar (di daerah pesisir), landai sampai bergelombang (wilayah dataran rendah <100 meter) dan berbukit (pegunungan). Daerah dengan ketinggian di atas 1000 m hanya sedikit di wilayah perbukitan dan gunung. Lahan pertanian terutama di dataran pantai utara, yang memiliki cukup air di permukaan maupun sungai-sungai besar. Setidaknya terdapat 88 Sungai dan mata air yang tidak kering di musim kemarau.
Rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur curam yang menguasai wilayah bagian tengah dengan empat puncak: Mawunu, Kombapari, Watupatawang, dan Wanggameti. Dataran rendah terdapat di sepanjang pesisir dengan bagian yang cukup luas di Tanjung Undu (pesisir paling barat). Kabupaten ini beriklim tropis dengan musim hujan yang relatif pendek dan musim kemarau yang panjang (delapan bulan). Suhu rata-rata adalah 22,5 derajat sampai 31,7 derajat Celsius. Musim hujan biasanya terjadi di bulan Desember sampai Maret untuk daerah pesisir dan November sampai April di daerah pedalaman. Jumlah curah hujan dalam setahun 1.860 milimeter, sehingga daerah ini termasuk daerah beriklim kering.
Amplitudo suhu yang tinggi mengakibatkan batu-batuan menjadi lapuk, tanah merekah dan terjadi seleksi alam terhadap tumbuhan dan hewan yang dapat hidup dalam kondisi demikian. Karena itu, jenis tumbuhan yang ada umumnya berupa tanaman keras seperti jati, kelapa, dan aren; sementara hewan peliharaan umumnya adalah sapi, kerbau, dan kuda yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan alam Sumba yang berpadang sabana luas.
Keadaan tanah di Sumba Timur mengandung pasir, kapur, dan batu karang karena ratusan ribu tahun yang lalu daerah ini berada di bawah permukaan laut. Setelah zaman es berlalu, daratan ini muncul di atas permukaan laut, sehingga sering dijumpai berbagai jenis hewan laut seperti kerang, ikan dan tanaman laut yang telah menjadi fosil di bukit-bukit karang. Rumput-rumput pun tumbuh di atas batu-batu karang.
Demografi
Jumlah Penduduk Kabupaten Sumba Timur (2002) adalah 190.214 jiwa, atau dengan kepadatan rata-rata 27 jiwa/km². Kepadatan tertinggi di Kecamatan Waingapu, yaitu 1.049 jiwa/km², sedang kepadatan terendah ada di Kecamatan Haharu, yaitu 13 jiwa/km². Disamping orang Sumba Timur asli, juga terdapat orang Sabu, keturunan Tionghoa, Arab, Bugis, Jawa dan penduduk yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur lainnya. Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Sumba Kambera. Sebagian besar penduduk di kabupaten ini beragama Protestan. Selebihnya adalah Islam, Hindu dan Budha. Sekitar 39 persen lagi adalah beragama tradisional Marapu. Meskipun keadaan tanahnya kurang subur, lebih dari separuh penduduk kabupaten Sumba Timur ini adalah petani. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai peternak, pegawai, buruh, nelayan dan lain-lain. Walaupun sektor pertanian menempati tempat pertama dalam pendapatan regional, luas sawah yang bisa digarap baru 11 persen dari luas tanah kabupaten seluruhnya. Penggarapan sawah ini dilakukan dengan cara tradisional yang disebut renca, yaitu pengerahan tenaga manusia dan kerbau dalam jumlah besar diatas tanah sawah yang akan ditanami. Kaki-kaki kerbau yang berjumlah puluhan ini digunakan sebagai pengganti bajak, dan pekerjaan renca ini diawali dan diakhiri dengan upacara keagamaan (ritus). Kehidupan sehari-hari penduduknya pada dasarnya merupakan cerminan kehidupan agama tradisional mereka. Hal ini bisa dilihat saat mereka melaksanakan berbagai upacara adat berkenaan dengan daur hidup seperti upacara kelahiran (habola), perkawinan (lalei atau mangoma) dan kematian (pa taningu).
Perekonomian
Perekonomian penduduk Sumba Timur ini sebagian besar adalah pertanian (termasuk peternakan), industri rumah tangga (terutama kerajinan tekstil/tenun), serta pariwisata.
Kerajinan
Industri rumah tangga di Sumba Timur didominasi kerajinan kain tenun ikat yang terdapat di hampir seluruh penjuru kabupaten. Kerajinan kain tenun ikat ini sudah terkenal sejak ratusan tahun. Ada dua kelompok pengrajin, yaitu yang menggantungkan seluruh penghasilannya pada pekerjaannya dan yang melakukannya hanya sebagai kerjaan sambilan. Seniman sambilan ini umumnya adalah mereka yang secara sosial masih memiliki fungsi adat seperti kaum bangsawan (maramba). Walaupun merupakan hasil sambilan, tenun jenis ini bermutu tinggi karena sebenarnya tenunan tersebut bukanlah barang dagangan, hanya sebagai koleksi atau digunakan dalam upacara adat. Ada beberapa daerah yang terkenal dengan kain tenunnya, seperti Desa Kaliuda yang terletak di Kecamatan Pahungalodu, Rindi dan Watuhadang yang terletak di kecamatan Rindiumalulu, Rambangaru yang terletak di kecamatan Pandawai, dan Kelurahan Prailulu. Tenunan dari daerah ini bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan ramuan tradisional dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tidak jarang ada tenunan yang lama penyelesaiannya hingga tahunan, yang menyebabkan harga jualnya pun mencapai jutaan rupiah, terutama yang berasal dari Rindi, Kaliuda, dan Kampung Pau.
Kerajinan tenun ini juga mendukung kegiatan pariwisata di kabupaten ini.
Pertanian tanaman
Pada sektor pertanian tanaman, padi, jagung, dan ubi kayu menjadi andalan. Hasil pertanian lainnya adalah cengkeh, kapuk, kemiri, kelapa, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, sorgum, dan jambu mete. Hasil pertanian tersebut telah dikembangkan sejak tahun 1977.
] Peternakan
Sektor peternakan memiliki sejarah panjang dan cukup berbeda dari daerah lain di Indonesia, oleh sebab keadaan alam wilayah ini yang memiliki musim penghujan pendek dan padang rumput (sabana) luas.
Sumba Timur terkenal sebagai pusat penangkaran dan perdagangan kuda sejak abad ke-19. Kuda sandel, yang merupakan hasil perbaikan (grading up) kuda lokal dengan kuda Arab, telah menjadi maskot daerah dan figurnya dimasukkan dalam lambang daerah.
Pada awal abad ke-20 (1906-1907) pemerintah Hindia Belanda memasukkan empat ras sapi ke Sumba, sapi jawa, sapi madura, sapi bali, dan sapi ongole dari India. Hanya yang terakhir yang diketahui bisa beradaptasi dengan baik dan segera menjadi komoditi peternakan unggulan, menggeser kuda.[1] Tujuh tahun sejak introduksi, pemerintah menetapkan Sumba sebagai pusat penangkaran sapi ongole murni dan sejak itu biakannya dikenal sebagai ras SO (Sumba Ongole), dan ini berlangsung hingga sekarang.
Pariwisata
Pantai Kalala, Tarimbang, Purukambera, dan Walakiri sudah mendunia dan dikenal sebagai tempat berselancar yang indah. Sisa-sisa kebudayaan megalitik berupa kubur batu dan rumah-rumah adat asli yang sering menjadi tempat pelaksanaan upacara adat penguburan jenazah bangsawan menarik minat para wisatawan. Wisata alam dapat dilakukan di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.[2]
Tempat wisata populer lainnya adalah Londa Lima, Watuparunu, dan Purukambera.
Kecamatan
Kabupaten Sumba Timur dibagi menjadi 15 kecamatan (lihat boks di bawah).
Langganan:
Komentar (Atom)